December 2007


Dershane = tempat belajar

Yah, disinilah aku tinggal. Sudah 2 tahun lebih aku tinggal di dershane. Dershane pertama ku di Cikaso, masuknya lewat Katamso atau Supratman. Aku bisa tinggal di dershane ini karena ajakan Mamal, teman satu jurusan di Fisika. Sempat merasakan tinggal di Dershane di kawasan Bandung selatan, dan sekarang berlokasi di gg H Ridho II no 24 E Geger Kalong, Bandung. Dekat dengan UPI, NHI, dan FT Unpas.Dershane ini merupakan satu dari ratusan dershane lain yang tersebar di seluruh dunia.

Dershane ini seperti asrama seperti umumnya, namun yang membedakan adalah penghuni, dan program asrama. DI dershane yang terakhir, aku tinggal bersama Ibrahim (Turki, guru bahasa inggris), Yusuf (Turki, UPI sem 3), Resul (Turki, Unpas sem 1), Ghani (Magelang, ITB el03), Ade (Tasik, UPI sem3), Andre (Bekasi, UPI sem3). Sungguh luar biasa, kita dari latar belakang yang berbeda bisa bekerja sama dalam satu dershane.

Karena latar belakang yang berbeda, maka dalam keseharian kita, terkadang timbul hal-hal yang menarik. Misalnya bahasa. Di dershane, kita menggunakan bahasa Turki, Inggris, Indonesia, Sunda, dan kadang-kadang Jawa. Pernah juga tinggal di dersane, seorang Turki yang tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Jadilah kita berkomunikasi dengan beliau dengan bahasa Tarzan. Sesekali bingung dan kemudian kita tertawa bersama.

Agenda rutin kita adalah makan bersama setiap malam. Untuk makan bersama, kita bergantian piket untuk memasak makan malam. Jadi hampir setiap anggota dershane bisa masak. Sehingga ada banyolan di antara kita, kalau saja dibandingkan dengan mahasiswi-mahasiswi yang ngekos, pasti lebih jago kita dalam hal masak memasak nih. Udah banyak juga bukti yang menyatakan keahlian memasak kita, dari teman-teman fisika, Gamais, NF Mampang, tamu dari UI, UPI, UNPAD, mantan presiden KM, sampai-sampai tetangga kita yang berasal dari Somalia-pun pernah merasakan indahnya kebersamaan makan malam ini. (yah betul, kebetulah kita bertetangga dengan beberapa mahasiswa asal Somalia yang sedang kuliah di Unpas. Somalia merupakan salah satu negara di Afrika).

Makan-makan di dershane

Untuk sarapan tidak rutin dilakukan, tergantung waktu dan kesiapan yang mendapat jatah piket. Kalaupun ada sarapan bersama, paling-paling hanya makan roti (he he he, belajar jadi orang bule ni), beli nasi kuning, lontong kari, ataupun bubur ayam. Namun kebersamaan lah yang menjadi kuncinya.

Agenda rutin lain yakni sholat berjamaah. Subhanallah, keberIslaman teman-teman di dershane patut diacungi jempol. KeberIslaman inilah yang kemudian bisa menyatukan kita. KeberIslaman inilah yang tetap membuat bertahan di dershane.

Manusia, sudah menjadi sifat dasar bahwa makhluk yang satu ini mempunyai peran ganda, peran sebagai makhluk individu dan peran sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu tentunya dia mempunyai hak-hak dasar yang harus diterima sebagai manusia, seperti makan, minum, mendapatkan pendidikan, serta melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang keberlangsungan hidupnya.

Selain untuk pemenuhan hak-haknya, manusia juga bertindak sebagai makhluk sosial tentunya mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap sesama, diantara kewajiban seorang manusia yaitu mengerjakan hal yang sudah menjadi tanggung jawabnya, tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.

Ada banyak golongan-golongan manusia. Ada orang dewasa, tua, muda, kota, desa, bodoh, berpendidikan, kaya, miskin, beriman, atheis, penyuka binatang, vegetarian dan banyak lagi. Saya akan membahas golongan manusia yang berpendidikan, khususnya yang bergelar sebagai mahasiswa.

Tentunya disini mahasiswa adalah kumpulan orang-orang muda yang tidak hanya mempunyai semangat untuk belajar tapi juga untuk mengabdikan baik ilmu, tenaga, maupun pikirannya untuk bisa disumbangkan kepada masyarakat luas. Sebagai orang-orang muda tentunya mahasiswa akan mempunyai pikiran-pikiran yang lebih terbuka pada perubahan-perubahan, tenaga yang besar dan tentunya semangat untuk berubah.

Hal itu bisa terlihat dalam lembaran-lembaran sejarah dunia, dan Indonesia tentunya. Kita lihat saja, dari zaman kenabian hingga sekarang selalu saja pemuda-pemuda yang berpendidikan baik, dia seakan tidak pernah puas dengan keadaan yang ada.

Ambil contoh di Indonesia, sejak beberapa gerakan pemuda dan mahasiswa pada khususnya telah banyak mengambil peran dalam sejarah bangsa. Angkatan 08, 28, 45, 66, 78, 98 dan sekarang. Tanpa gerakan-gerakan mahasiswa, mungkin bangsa kita sekarang tidak bisa menikmati kebebasan seperti sekarang.

Kondisi zaman memang terus berubah, gerakan-gerakan kemahasiswaan juga dituntut untuk berubah. Setiap masa memiliki cara yang khas yang tidak bisa disamakan, tapi dari perbedaan-perbedaan yang ada, di setiap gerakan mahasiswa mempunyai benang merah yang sama, yaitu kekuatan tenaga dibalut dengan ilmu yang menciptakan idealisme yang besar untuk selalu memerangi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai.

Nah, bagaimanakah peran kita sebagai mahasiswa? Apakah hanya bisa menjadi mahasiswa yang menjadi budak-budak ilmu pengetahuan semata, atau mahasiswa yang bisa meramu keilmuanya ditambah dengan tenaga serta idealisme yang besar yang bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan menjadi pahlwan-pahlawan bagi keluarga dan masyarakat?

Insan Kamil

Keluarga Mahasiswa Islam

Institut Teknologi Bandung