Sepenggal kisah hidupku dilalui dengan mengeyam di salah satu SMA favorit di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ya tepat, SMA 28. Lulus dari SMP 41, seperti pindahan sekolah, kamipun pindah ke SMA 28.
Ketika itu SMA 28 mempunyai peringkat yang cukup baik, yah, bisa dibilang salah satu unggulan Jakarta Selatan. Namun kini katanya, SMA 28 ini termasuk salah satu SMA unggulan Jakarta. Orang-orang pandai berebut ingin masuk sekolah ini. Bersyukurlah kala itu aku bisa menjadi bagian dari SMA favorit ini.
Di 28, aku mulai mengenal aktivitas luar akademik. Aku bergabung dengan ekstrakulikuler OSIS, dan ROHIS. Di situ aku di tempa menjdi seorang yang mempunyai skill leadership, kerjasama, dan mulai memiliki visi untuk menempuh kehidupan selanjutnya.
Cukup menyenangkan sekolah di SMA 28, teman-teman yang asik, berkomitmen, serta selalu ringan tangan untuk membantu. Pun dengan guru-guru yang selalu welcome terhadap murid-muridnya. Mungkin faktor itulah yang menjadikan sekolah kami menjadi sekolah favorit, dan bisa menjadi unggulan.
Kelas 3 adalah saat-saat fokus terhadap pelajaran, maklum saja, inilah momen yang paling menenetukan masa depan hidup kami. Kami berjuang sepenuh hati belajar, mengejar ketertinggalan/mengulang pelajaran untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negri.
Alhamdulillah aku akhirnya keterima di ITB, yang kata orang Institut Terbaik Bangsa, ya, walaupun namanya sedikit tercoreng dengan kasus meninggalnya salah satu mahasiswa karena OSPEK, tapi toh tetap tidak menyurutkan kebanggaan ku terhadap ITB!!
Back to topic, aku mau cerita tentang keunikan atau suatu kebetulan. Pernah suatu ketika, aku di utus oleh GAMAIS ITB ke suatu acara di Samarinda, Kalimantan Timur. Aku menjadi moderator suatu seminar. Ketika membaca biodata orang tersebut, ternyata beliau alumni SMA 28. Bayangkan, betapa senangnya bertemu dengan alumni 28, di luar pulau Jawa, dan kita duduk bersama mengisi suatu seminar.
Cerita lain, aku pernah jadi relawan kemanusiaan di Jogja pasca kejadian gempa Jogja. Kita akan mengadakan pengobatan gratis, kita undanglah teman-teman kedokteran UNS yang tergabung dalam Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Lagi-lagi, ternyata salah satu dokternya alumni 28. Senang sekali bisa ketemu dengan pa dokter di Jogja yang ternyata satu almamater SMA.
Tidak lama setelah lulus kuliah, setelah gagal keterima di suatu lembaga penelitian, dan belum berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah, aku memutuskan untuk memulai usaha. Aku dikenalkan oleh ayahku dengan salah seorang temannya yang berprofesi sebagai dosen hukum di UI untuk menjadi rekan usaha. Setalah ngobrol panjang, ternyata orang itu juga alumni 28. Wah, kaget juga mendengarnya. Beliau sempat cerita, bahwa beliau merupakan salah satu angkatan ketiga di SMA 28. Kala itu SMA 28 benar-benar seperti di hutan. Di sekeliling sekolah merupakan kebon penelitian Dept Pertanian. Masih sepi sekali. Itu sekitar tahun 73an.. (he he he, jadul bangetlah)
Sekarang aku mulai mengembangkan usaha. Ayahku lagi-lagi mengenalkanku ke salah seorang temannya, pemilik suatu warung sederhana di daerah Ciganjur. Lagi-lagi kaget, setelah ngobrol macam-macam, ternyata beliau juga alumni 28..
Memang benar pribahasa, dunia tidak selebar daun kelor. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tiba-tiba bisa menjadi akrab. Ya, salah satunya karena kita satu almamater, alumni SMA 28 tercinta.
Kamil
16 Februari 2009