Serba-Serbi Sapi (Perah)

Oleh : Insan Kamil

http://bangkamil.wordpress.com

1. Sapi

Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. Seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.

Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%.

Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang.

Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni. Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.

Memelihara sapi sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja. Kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.

Hal-hal utama yang harus diperhatikan dalam peternakan sapi perah adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, kebersihan kandang serta kesehatan ternak yang dipelihara.

2. Jenis-jenis sapi

Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.

Sapi memiliki dua jenis yang berbeda, yaitu sapi yang digunakan sebagai sumber daging, dan penghasil susu. Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole), sapi Madura, sapi Brahman (India), sapi Aberdeen angus (Skotlandia), dan sapi Simental (Swiss).

Sedangkan jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.

Jenis sapi perah yang biasa dipelihara adalah sapi FH (Fries Holland) dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • Warna bulu putih dengan bercak hitam.
  • Berat badan betina dewasa 625 kg dan jantan 900 kg.
  • Pembawaan betina tenang dan jinak sedangkan jantan agak panas.
  • Daya merumput (Grazing ability) hanya baik pada pasture yang baik saja.
  • Dewasa kelamin sapi FH agak lambat, umur pertama kali dikawinkan 15 – 18 bulan.
  • Produksi susu relatif lebih tinggi dibandingkan sapi perah lainnya.

3. Sistem pengembangbiakan

Pengelompokan sapi perah dapat dibedakan menjadi sapi pedet, sapi dara,d an sapi dewasa. Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.

Sapi Pedet : Sapi pedet ini merupakan sapi yang baru lahir. Sapi pedet ini harus diperhatikan kadar makanan dan pemberian susu.

Sapi dara : Sapi betina berumur 1 – 2 tahun atau lebih dan belum pernah beranak. Pemeliharaan dan pemberian pakan pada sapi dara sebelum beranak sangat mempengaruhi pertumbuhan.

Sapi Betina Dewasa : Sapi betina yang siap bunting!

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:

  1. Produksi susu tinggi,
  2. Umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak,
  3. Berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,
  4. Bentuk tubuhnya seperti baji,
  5. Matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat,
  6. Ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek,
  7. Tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan
  8. Tiap tahun beranak.

Sementara calon induk yang baik antara lain:

  1. Berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi,
  2. Kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,
  3. Jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar,
  4. Pertumbuhan ambing dan puting baik,
  5. Jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta
  6. Sehat dan tidak cacat.

Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Umur sekitar 4-5 tahun,
  2. Memiliki kesuburan tinggi,
  3. Daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,
  4. Berasal dari induk dan pejantan yang baik,
  5. Besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik,
  6. Kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat,
  7. Muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar,
  8. Paha rata dan cukup terpisah,
  9. Dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar,
  10. badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta
  11. Sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.

Prosedur:

Pemilihan Bibit dan Calon Induk

Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.

Perawatan Bibit dan Calon Induk

Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.

Sistim Pemuliabiakan

Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.

Saat ini kebanyakan dari sapi perah menjalani inseminasi buatan. Sumber bibit pejantan unggulan didapatkan dari pusat inseminasi buatan, salah satu tempat inseminasi buatan yaitu di Lembang Bandung. Untuk menghasilkan bibit unggul dilakukan Inseminasi Buatan (IB) dengan menggunakan semen beku dari BIB Lembang dan BIB Singosari

4. Kandang sapi

Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.

Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi

Lantai kandang memiliki drainase yang baik, dan harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat. Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

5. Makanan

Makanan merupakan salah satu faktor penting dalam pemeliharaan hewan ternak. Makanan yang berkualitas dan cukup akan menghasilkan susu yang baik dengan kuantitas yang banyak.

Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

  • Sistem penggembalaan (pasture fattening). Sapi dibiarkan mencari makan sendiri.
  • Sistem kereman (dry lot fattening). Sapi dikandangkan
  • Kombinasi cara pertama dan kedua.

Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.

Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).

Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari..

Pakan sapi perah umumnya dibagi tiga :

  1. Hijauan : Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum): Lamtoro, turi, gamal
  2. Konsentrat : Dedak, bunkil kelapa, bungkil kacang tanah, jagung kedelai yang juga merupakan sumber karbohidrat.
  3. Limbah pertanian : Jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, dll.

Pakan yang diberikan kepada sapi perah secara umum berupa hijauan 60 % dari BK (berat kering) dan 40 % Konsentrat. Dalam hal ini hijauan yang digunakan 75 % rumput alam dan 25 % rumput unggul. Sebagai contoh bila berat sapi 450 kg dan produksi susu 13 kg / hari lemak 3,5 % dapat diberikan pakan : rumput alam 21 kg, rumput gajah 7,5 kg dan konsentrat pabrik 6 kg.

6. Susu sapi

New Zealand merupakan negara pengekspor susu sapi paling banyak didunia, dan Jepang merupakan negara importir sapi terbesar di dunia.

Pemerahan sapi dapat dilakukan secara tradisional, maupun cara modern. Pemerahan secara tradisional yaitu teknik pemerahan menggunakan tangan. Sedangkan cara modern menggunakan mesin.

Pemerahan secara tradisional memang memakan waktu lebih lama, dan membutuhkan pekerja yang banyak, namun lebih nyaman bagi sapi (menghindari terlukanya ambing sapi). Pengelolaan dengan mesin akan lebih cepat, namun perlu diperhatikan teknik penggunaan alatnya, supaya ambing sapi tidak terluka.

Susu sapi yang sudah diperah, biasanya dimasukkan ke dalam mesin pendingin supaya susu tidak cepat rusak. Baru setelah itu diolah. Beberapa produk olahan susu sapi antara lain susu bubuk, krim, mentega, dan keju.

7. Kesehatan & penyakit

Sapi itu seperti manusia, senang di tempat yang nyaman, dan bersih. Hasil susu dari sapi yang terawat akan lebih banyak daripada sapi yang dibiarkan kotor. Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:

  • Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi. Sapi dimandikan setiap hari, terutama sebelum pemerahan susu.
  • Sapi yang sakit dipisahkan dari sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
  • Mengusakan lantai kandang selalu kering.
  • Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.

Sapi juga memerlukan olahraga untuk kesehatan, biasanya dilakukan exercise (gerak jalan) disekitar kandang, pemeliharaan kuku, kebersihan badan, dan perlu diperhatikan perkembangan reproduksi seperti masa birahi, masa perkawinan, kebuntingan dan beranak.

Beberapa penyakit yang sering menyerang sapi perah antara lain:

Radang Ambing / Mastitis

Penyebab : Bakteri Streptococcus agalactiae dan Staphilocossus aureus

Gejala : (pada mastitis akut) pembengkakan pada ambing, panas, keras dan terasa sakit diikuti demam, lemah dan nafsu makan hilang.

Pencegahan : Kebersihan kandang terutama pada lantai

Pengobatan : Antibiotik seperti pennicilin, Terramycin dll.

Antrax

Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.

Gejala : Demam tinggi, badan lemah dan gemetar; gangguan pernafasan; pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; limpa bengkak dan berwarna kehitaman.

Pengendalian : vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

Brucellosis

Penyebab : Kuman Brucella

Gejala : Biasanya terjadi keguguran pada kebuntingan 5 – 8 bulan.

Pencegahan : Pemeriksaan darah secara berkala, menjaga kebersihan kandang ternak, dan Vaksinasi.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)

Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.

Gejala : rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; demam atau panas, suhu badan menurun drastis; nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; air liur keluar berlebihan.

Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)

Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.

Gejala: kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; leher, anus, dan vulva membengkak; paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.

Pengendalian: Vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)

Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.

Gejala: mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; kulit kuku mengelupas; tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

Pencegahan : Menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering

Pengobatan : Memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali.

8. Serba serbi sapi

Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.

Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.

Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari.

Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.

PROSEDUR PEMELIHARAAN TERNAK

Sanitasi Kandang dan Pemerahan di Kandang Laktasi

04:00 : Memandikan dan membersihkan kandang

04:30 : Mencuci mesin perah dan persiapan alat-alat pemerahan

05:00 : Persiapan pemerahan : Perangsangan dengan air hangat, strip cup, pemerahan, dipping (semprot disinfektan)

06:30 : Membersihkan mesin perah

07:30 : Pemberian hijauan

07:45 : Pemberian konsentrat

08:00 : Kontrol bak air minum dan pengisian bak air minum

10:00 : Membersihkan kandang dan lingkungan

10:30 : Pemberian pakan tambahan

11:00 : Pemberian rumput tambahan

12:30 : Pemberian konsentrat, dan kontrol bak air minum

14:00 : Membersihkan kandang dan lingkungan

15:00 : Mencuci mesin perah dan persiapan alat-alat pemerahan

15:30 : Persiapan pemerahan : Perangsangan dengan air hangat, strip cup, pemerahan, dipping (semprot disinfektan)

16:30 : Membersihkan mesin perah

16:45 : Pemberian hijauan dan konsentrat

Pakan Ternak (konsentrat)

Dokumentasi mengenai istilah bahan pakan ternak yang didapat dari hasil ikutan pengolahan dan industri pangan (industrial by-product) dari bahan nabati. Catatan ini mengulas dedak padi, dedak jagung, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, dan onggok (ampas ketela pohon).

Dedak Padi

Dedak padi (hu’ut dalam bahasa sunda) merupakan hasil sisa dari penumbukan atau penggilingan gabah padi. Dedak tersusun dari tiga bagian yang masing masing berbeda kandungan zatnya.

Ketiga bagian tersebut adalah:

  • Kulit gabah yang banyak mengandung serat kasar dan mineral
  • Selaput perak yang kaya akan protein dan vitamin B1, juga lemak dan mineral.
  • Lembaga beras yang sebagian besar terdiri dari karbohidrat yang mudah dicerna.

Berhubung dedak merupakan campuran dari ketiga bagian tersebut diatas maka nilai/martabatnya selalu berubah-ubah tergantung dari proporsi bagian-bagian tersebut. Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas, yaitu:

Dedak Kasar

Adalah kulit gabah halus yang bercampur dengan sedikit pecahan lembaga beras dan daya cernanya relatif rendah.

Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19
Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat (konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%)

Dedak halus biasa

Merupakan hasil sisa dari penumbukan padi secara tradisional (disebut juga dedak kampung). Dedak halus biasa ini banyak mengandung komponen kulit gabah, juga selaput perak dan pecahan lembaga beras. Kadar serat kasarnya masih cukup tinggi akan tetapi sudah termasuk dalam golongan konsentrat karena kadar serat kasar dibawah 18%. Martabat Pati nya termasuk rendah dan hanya sebagian kecil saja yang dapat dicerna.

Analisa nutrisi: 16.2% air, 9.5% protein, 43.8% bahan ekstrak tanpa N, 16.4% serat kasar, 3.3% lemak dan 10.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) nya 53

Dedak lunteh

Merupakan hasil ikutan dari pengasahan/pemutihan beras (slep atau polishing beras). Dari semua macam dedak, dedak inilah yang banyak mengandung protein dan vitamin B1 karena sebagian besar terdiri dari selaput perak dan bahan lembaga, dan hanya sedikit mengandung kulit. Di beberapa tempat dedak ini disebut juga dedak murni.

Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3% protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu serta nilai MP adalah 67.

Bekatul

Merupakan hasil sisa ikutan dari pabrik pengolahan khususnya bagian asah/slep/polish. Lebih sedikit mengandung selaput perak dan kulit serta lebih sedikit mengandung vitamin B1, tetapi banyak bercampur dengan pecahan-pecahan kecil lembaga beras (menir). Oleh sebab itu masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan manusia sehingga agak sukar didapat.

Analisa nutrisi: 15% air, 14.5% protein, 48.7% lemak dan 7.0% abu serta nilai MP adalah 70.

Dalam perdagangan harus cukup teliti dan waspada karena dedak sering dipalsukan dengan mencampur kulit gabah (dedak kasar) yang telah digiling halus ke dalam dedak halus, lunteh atau bekatul.

Dedak Jagung

Dedak jagung merupakan hasil sisa ikutan dari penggilingan jagung yang banyak terdapat di daerah-daerah yang makanan pokok dari penduduknya adalah jagung, seperti Madura dan daerah industri dan pertanian Jagung lainnya. Dedak jagung sangat baik diberikan pada ternak hanya cara penyimpanannya yang agak sukar karena bersifat higroskopis sehingga mudah menjadi lembab sehingga cepat rusak.

Analisa nutrisi: 9.9% air, 9.8% protein, 61.8% bahan ekstrak tanpa N, 9.8 serat kasar, 6.4% lemak dan 2.3% abu serta nilai Martabat Pati (MP) adalah 68.

Bungkil Kelapa

Karena (setidaknya ketika jurnal ini dibuat) minyak kelapa menduduki tempat pertama dalam memenuhi kebutuhan manusia akan minyak goreng, bungkil kelapa sangat mudah didapatkan. Harganya pun jauh lebih murah bila dibandingkan dengan bungkil kacang tanah. Kadar proteinnya paling rendah diantara bungkil-bungkil yang lain, namun nilai martabat makanannya cukup tinggi karena zat-zat yang dikandung bungkil kelapa mudah dicerna.

Yang disebut bungkil kelapa ini biasanya adalah hasil sisa dari pembuatan dan ekstraksi minyak kelapa yang didapat dari daging kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu.
Sangat baik diberikan pada sapi perah sebab dapat meningkatkan kadar lemak susu sehingga meningkatkan kualitas susu. Pemberiannya tergantung pada berat badannya yaitu antara 1.5 – 2.5 kg/ekor/hari. Sedangkan untuk babi antara 0.75 – 1.5kg/ekor/hari.

Baik pula diberikan pada ayam dengan pemberian sampai +/- 25%.
Untuk kuda juga dapat diberikan hanya dalam jumlah sedikit dan dicampur dengan gabah atau dedak, sebab apabila terlalu banyak dapat menyebabkan diare.

Analisa nutrisi: 11.6% air, 18.7% protein, 45.5% bahan ekstrak tanpa N, 8.8% serat kasar, 9.6% lemak dan 5.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) 81.

Bungkil Kacang Tanah

Bungkil ini sekarang mudah didapat karena sudah banyak pabrik-pabrik minyak kacang, baik pabrik modern maupun yang masih sederhana. Kadar proteinnya paling tinggi diantara bungkil bungkil yang lain yang umum digunakan.

Baik untuk digunakan sebagai komposisi dalam ransum konsentrat untuk sapi, babi dan ayam. Hanya perlu dibatasi jumlah pemberiannya karena kadar lemaknya yang cukup tinggi dan harganya relatif mahal.

Analisa nutrisi: 6.6% air, 42.7% protein, 27% bahan ekstrak tanpa N, 8.9% serat kasar, 8.5% lemak dan 6.3% abu serta nilai MP adalah 80.

Onggok

Merupakan hasil sisa dalam pembuatan tepung kanji. Dapat diberikan pada ternak sapi dan babi sebagai komposisi ransumnya. Ampas ketela pohon ini berguna sebagai sumber karbohidrat untuk stimulasi dalam pembuatan silase.

Analisa nutrisi: 18.3% air, 0.8% protein, 78% bahan ekstrak tanpa N, 2.2% serat kasar, 0.2% lemak dan 2.5% abu serta nilai MP adalah 76.

Daftar Pustaka

BPPT. Prosedur Pemeliharaan Ternak, Sanitasi Kandang dan Pemerahan di Kandang Laktasi. Lokasi percontohan sapi perah, Lembang Jawa Barat.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Brosur Beternak Sapi Perah. Propinsi Lampung

http://en.wikipedia.org/wiki/Dairy_farming

http://en.wikipedia.org/wiki/Milk

http://manglayang.blogsome.com

http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=4&doc=4a14

http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=4&doc=4a13

Lampiran

Grafik pertambahan berat badan sapi

milk products

————————————————————————————————————————————————-

————————————————————————————————————————————————-

Serba-Serbi Kambing

Oleh : Insan Kamil

http://bangkamil.wordpress.com

1. Kambing

Pemeliharaan kambing telah bermula semenjak beribu-ribu tahun dahulu  (7,000 – 6,000 s.m.) Kemungkinan besar kambing adalah hewan ternak yang pertama kali dijinakkan dan dipelihara karena kambing mudah menyesuaikan diri dengan alam sekeliling.

Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi, baik daging, susu, maupun kulitnya relatif mudah.

Secara tradisional, pemeliharaan kambing telah dilakukan oleh penduduk, namun apabila pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 – 150 gram per hari.

Aspek penting dalam pemeliharaan kambing, adalah kebersihan hewan, dan kandungan makanan. Rumput dan kacang-kacangan adalah bahan makanan penting bagi kambing jenis hewan ternak lainnya.

2. Jenis-jenis kambing

Jenis kambing dapat dibedakan menjadi dua, kambing denis pedaging, dan jenis penghasil susu. Di antara kambing pedaging adalah Jamnapari/Ettawah dan Boer, sedangkan untuk pengeluaran susu, yaitu jenis Anglo Nubien, Saneen dan British Alpine.

Katjang

Kambing kacang merupakan kambing asli dari Malaysia dan Indonesia. Digunakan untuk keluaran daging. Kambing jenis ini mempunyai badan yang kecil dan pendek dan tanduk yang melentur ke atas dan ke belakang. Telinganya tegak ke sisi. Terdapat janggut pada kambing jantan dan jarang pada betina. Tampak samping, muka kelihatan lurus dan tirus.

Lehernya pendek dan bagian belakang adalah lebih tinggi dari bahu, purata ketinggiannya ialah 5- – 60 s.m. Kulit badan nipis tetapi mempunyai bulu yang kasar. Warna bulu biasanya hitam, coklat dan kadangkala terdapat tompok-tompok putih di kaki atau badan.

Kelahiran kembar adalah salah satu ciri-ciri kambing ini yang baik. Pengeluaran susu adalah sedikit; tidak lebih dari 0.3 kg sehari dalam masa 3 bulan pertama dan 0.2 kg dalam masa 4 – 6 bulan.

Jamnapari/Ettawah

Kambing jenis Jamnapari/ettawah berasal dari India, dalam referensi lain kambing ini merupakan kambing asli Indonesia. Kambing jenis ini digunakan untuk keluaran daging dan juga susu (dwiguna). Pandangan dari sisi menunjukkan muka yang cembung (Roman nosed) dan mempunyai telinga yang panjang dan melampai ke bawah.

Badan adalah lebih besar dan tinggi dari kambing kacang dan terdapat tanduk yang melentur ke atas dan ke belakang, bulunya agak lebat di bagian punggung dan daerah leher. Bulunya agak kusut dan berwarna campuran hitam dan kekuningan. Berat kambing jantan dan betina dewasa adalah antara 60-90 kg dan 30-60 kg masing-masingnya

Anglo-Nubian

Kambing jenis Anglo Nubian mempunyai sifat-sifat Zariby (Nubian) dari Mesir dan juga Jamnapari/ettawah dari India. Kambing ini mempunyai ciri sebagai tahan lasak dan mudah beradaptasi dengan alam sekitar. Selain dari pengeluaran daging, baka ini juga boleh digunakan untuk pengeluaran susu (dwiguna).

Kambing jenis ini berbadan besar dan mempunyai telinga yang panjang dan melampai ke bawah. Hidung kambing jenis ini melengkung ke bawah dan mempunyai kaki yang panjang dengan purata ketinggian badannya 80 s.m. Kebiasaannya kambing Anglo Nubian tidak mempunyai tanduk tetapi mempunyai bulu badan yang pendek. Warna bulu ialah coklat kemerahan tompok-tompok kemerahan seperti warna rusa, coklat putih, warna gelap atau kombinasi warna-warna tersebut. Berat badan sekitar 50-80 kg. Kambing ini sesuai untuk menghasilkan susu. Jumlah susu yang dihasilkan lebih kurang 200 kg dalam waktu menyusui, yaitu 261 hari .

Saneen

Kambing ini berasal dari Lembah Saanen di Switzerland. Bulunya pendek berwarna putih atau krim dengan titik hitam di hidung, telinga dan di kelenjar susu. Hidungnya lurus dan muka berupa segitiga. Telinganya sederhana dan tegak ke sebelah dan ke depan. Ekornya tipis dan pendek.

Tanduk didapati pada kedua-dua jantina. Kacang-kacangan di leher boleh dilihat pada kambing jenis ini. Penghasilan susunya berkisar di antara 500 kg dan 1,200 kg dalam waktu 250 hari.

Kacukan/campuran

Kambing kacukan/campuran adalah hasil dari perkawinan kambing lokal dan kambing import seperti Anglo Nubian, Jamnapari, Saanen, Toggenburg dan British Alpine. Biasanya diternak untuk diambil dagingnya.

Rupa bentuk biasanya menunjukkan mirip kedua induk dan baka, tidak mempunyai ciri-ciri sendiri. Kambing jenis kacukan ini dapat meningkatkan berat badan sebanyak 18 – 25 kg dalam setahun. Kambing kacukan/campuran dewasa juga mempunyai berat badan yang lebih tinggi dari kambing lokal. Kambing jantan mempunyai berat 35-45 kg sementara betina beratnya ialah 25-30 kg

3. Sistem pengembangbiakan

Pengelolaan reproduksi

Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengeloloaan reproduksi adalah :

  • Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan
    mencapai 55 – 60 kg.
  • Lama birahi 24 – 45 jam, siklus birahi berselang selama 17 – 21 hari.
  • Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila
    dinaiki.
  • Ratio jantan dan betina = 1 : 10
  • Saat yang tepat untuk mengawinkan kambing adalah : Masa bunting 144 – 156 hari (…. 5 bulan); Masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan.

Penjagaan

Anak Kambing (4 bulan ke bawah)

Setelah dilahirkan, anak kambing terus menyusu ibunya. Anak kambing bergantung kepada susu ibunya sehingga berumur 6-8 minggu. Selepas itu ia mulai memakan rumput dan tumbuh-tumbuhan lain serta makanan tambahan (concentrate).

Apabila menjangkau umur 3-4 bulan, anak kambing ini akan berangsur-angur meninggalkan susu. Dalam masa 6-8 minggu pertama anak kambing masih di biarkan di dalam kandang tetapi ibunya dibiarkan lepas untuk mencari makan. Setelah waktu itu, barulah kambing digalakkan mencari makan bersama-sama ibunya. Dalam keadaan di mana susu ibu tidak memadai atau ibu kambing sakit, anak kambing ini perlu diberi susu botol.

Kambing Muda (4 bulan ke atas)

Apabila mencapai umur 4 bulan, anak kambing perlu dipisah dari ibunya. Ini untuk menggalakkan ibu tersebut cepat kembali berahi dan kemudian dapat beranak kembali. Anak kambing yang telah dipisahkan dari ibunya hendaklah diberi penjagaan yang baik.

Keadaan yang basah dan lembab dapat menyebabkan radang paru-paru pada anak kambing. Oleh itu, penting anak kambing tersebut dikandang di tempat yang sesuai pada waktu malam atau hujan. Sebaiknya kambing betina diasingkan dari yang jantan.

Kambing bunting

Bagi kambing yang bunting, hendaklah diberikan perhatian serta makanan tambahan yang cukup. Beberapa hari sebelum beranak, kambing tersebut diletak dalam kandang tersendiri dan dibiarkan di situ sehingga anaknya dapat dipisahkan darinya.

Tanda-tanda birahi:

  • Mulai mendaki belakang rekannya
  • Berminat bergaul dengan kumpulan jantan
  • Mengoyangkan ekornya
  • Kemaluan berkembang berwarna kemerahan dan berlendir
  • Selera makan berkurang, dan suka menganggu rekan

Tanda-tanda bunting:

  • Tidak kembali berahi lagi
  • Perutnya membesar terutama setelah 3 bulan
  • Tetek membesar
  • Anak dapat dirasa bila perut dipegang

4. Kandang kambing

Pemilihan kawasan untuk menjalankan pemeliharaan adalah penting. Kawasan-kawasan yang dipilih sepatutnya mempunyai tempat teduh dan redup seperti pohon besar. Pohon juga digunakan untuk pemecah angin. Kawasan tanah yang tinggi dan dataran serta mempunyai sistem pengaliran air dan udara yang baik, serta yang cukup jauh dari jalan raya yang sibuk untuk menghindari stress pada kambing.

Kawasan ini harus segar, berventilasi baik, cukup cahaya matahari, dan minimal berjarak 5 meter dari rumah tinggal. Beberapa sistem penggelolan kambing antara lain sistem tambat, sistem bebas, dan sistem kandang.

Sistem Tambat

  • Kambing diikat pada kayu dengan tali kira-kira 3 meter.
  • Kambing perlu dipindah sekurang-kurangnya sekali sehari untuk mempastikan ia mendapat cukup rumput segar
  • Setelah malam, kambing diletakkan di tempat terlindung atau dalam kandang serta dibekalkan air, makanan tambahan tidak diperlukan.
  • Tempat mengikat sebaik-baiknya digilirkan untuk menghindari timbulnya penyakit terutama parasit seperti cacing.

Sistem Bebas

  • Biasanya kambing diternak dalam bilangan yang kecil sekitar 5-20 ekor
  • Kambing-kambing dibiarkan bebas mencari makanan sendiri seperti tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumputan
  • Ia dilepaskan pada waktu pagi dan dimasukkan ke dalam kandang pada waktu petang

Sistem Kandang/Intensif

  • Kambing dipelihara dalam kandang
  • Sekali-sekala dibawa keluar untuk pendedahan kepada cahaya matahari untuk menggalakkan kesuburan, pembesaran dan kesehatan yang baik
  • Cara ini memudahkan pengurusan kambing

Kandang boleh dibuat di atas tanah ataupun secara berlantai. Namun disarankan untuk kandang yang di atas tanah karena memiliki sistem peredaran udara yang baik dan juga mudah dibersihkan.

Kandang atas tanah

Kandang ini berukuran 2-3 m tinggi dan 1-1.5 m panjang mengikuti keperluan. Tapak di bawah kandang diperbuat daripada tanah yang dipadatkan, dan ditinggikan sedikit dari kawasan sekeliling untuk menjamin saliran yang baik dan lantai yang sentiasa kering.

Kandang bertiang

Kandang jenis ini didirikan 1.0-1.05 m dari atas tanah. Lantai dibuat dari papan atau kayu bulat, diatur anggaran 1 cm jaraknya antara satu dengan lain supaya kotoran dapat jatuh terus ke bawah. Kandang jenis ini baik untuk kawasan tanah rendah dan sering dilanda banjir.

  • Dinding diperbuat diperbuat daripada papan yang dipasang setinggi 1 m dari lantai. Alasnya dipasang papan kecil, kayu bulat atau buluh yang jarang sedikit bagi aliran udara dan cahaya. Bangun sedemikian hingga, tidak membahayakan kambing.
  • Struktur bumbung bertingkat adalah yang terbaik bagi menjamin baiknya aliran udara. Pilihlah bahan yang menyejukkan seperti asbes atau atap nipah sehinggal cahaya matahari cukup masuk kandang, terutama matahari pagi. Baiknya kedudukan kandang arah utara-selatan
  • Pagar dibangun sekurang-kurangnya memiliki tinggi 1 m, strukturnya mesti kokoh. Pagar yang kokoh karena kambing suka melompat keluar pagar, merangkak di bawah pagar dan berdiri atas pagar yang menyebabkan pagar mudah
  • Membenarkan cahaya matahari yang cukup untuk masuk ke dalam kandang terutama matahari pagi. Kedudukan kandang arah Utara-Selatan.

5. Makanan

Makanan adalah perkara yang paling penting dalam pemeliharaan. Makanan diperlukan untuk pembesaran, pembiakan, kesehatan dan juga akan menentukan untung ruginya sesuatu perusahaan peternakan kambing. Ternakan yang sehat memerlukan gizi yang seimbang dan mencukupi setiap masa.

Makanan hijauan mempunyai kandungan air yang tinggi, serta merupakan sumber tenaga, vitamin dan mineral. Konsentrat mempunyai kandungan bahan kering yang tinggi, ia kaya dengan protein, lemak, mineral dan menjadi sumber tenaga.

Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).

Cara pemberiannya :

  • Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 – 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.
  • Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 – 1 kg/ekor/hari.

Di antara manfaat makanan yang penting ialah:

Garam galian

  • Perlu untuk kesehatan yang baik terutama kambing yang bunting dan sedang membesar
  • Jenis garam yang biasa diberi ialah garam biasa, garam jilat, tepung tulang atau garam komersial seperti ‘phoshrich’
  • Garam diletak dalam bekas atau digantung pada dinding

Makanan konsentrat

  • Konsentrat atau makanan penguat adalah makanan tambahan yang dibuat dari dedak jagung, bungkil kelapa dan hampas tauhu
  • Contoh konsentrat ialah 2 bagian dedak jagung: 1 bagian dedak halus: 1 bagian ampas kelapa.
  • Konsentrat komersial berbentuk pellet
  • Konsentrat penting sebagai makanan tambahan untuk kambing yang bunting, menyusu serta anak-anak kambing yang sedang membesar

Rumput dan kacang-kacangan

  • Merupakan sumber air dan serat yang baik
  • Makanan tersebut dapat merangsang kecekapan sistem penghadaman
  • Seekor kambing dewasa memerlukan 4-5 kg rumput basah sehari
  • Rumput yang disyorkan seperti guinea, rumput setaria dan kekacang
  • Tumbuhan tempatan seperti daun mengkudu, daun turi, daun pisang muda juga digemari oleh kambing

Air

  • Air bersih perlu disediakan sepanjang waktu
  • Cuaca yang panas akan menambah konsumsi air, terutama kambing penghasil susu.

6. Susu kambing & teknik pemerahannya

Susu kambing merupakan pilihan makanan terbaik bagi membantu meningkatkan tumbesaran badan manusia kerana ia mempunyai khasiat dan kualiti yang hampir sama dengan susu manusia, terutama dari kandungan protin dan lemaknya.

Kandungannya yang penuh dengan khasiat seperti vitamin A,D dan E serta lemak yang rendah amat sesuai untuk dijadikan makanan tambahan dalam kehidupan seharian, juga dapat membantu merawat pelbagai penyakit seperti jaundice, asma dan gastrik. Susu ini juga baik untuk menjaga kesehatan kulit dan pembinaan sel-sel darah dalam badan di samping dapat membantu memulihkan masalah stamina.

Pada kebiasaannya, orang beranggapan bahwa susu kambing berbau anyir dan tidak sesuai untuk diminum tetapi tanggapan itu salah kerana kambing jenis British Alpine, Anglo Nubien dan Saanen adalah jenis kambing penhasil susu yang baik. Kambing-kambing jenis tersebut mampu untuk menghasilkan sehingga empat liter susu sehari.

7. Kesehatan dan penyakit

Kambing sangat mudah diserang penyakit. oleh itu program suntikan pembasmian kutu dan cacing perlu dilaksanakan. Obat cacing diberikan sekurang-kurangnya dua tahun sekali. Suntikan vaksin Heptavac dan Heamorrhagic septicemia diberikan sekali setahun. Kebersihan fisik kambing perlu diambil perhatian seperti kuku yang panjang perlu dipotong dan bulu yang kotor perlu dibersihkan.

Kambing yang sehat akan terlihat cergas, berselera makan, suka berkumpulan, bulu berkilat, kulit licin, tahi keras dan badan berisi, sedangkan kambing berpenyakit nampak monyok, tak selera makan, mengasingkan diri, sering mengembek, bulu kering dan meremang, tahi ceret serta badan kurus

Penyakit yang biasa menyerang kambing antara lain:

Penyakit Puru (Contagious ecthyma)

  • Disebabkan oleh virus
  • Terdapat gelembung berair pada bagian kulit lembut, mulut dan gusi serta bibir
  • Gelembung ini mungkin juga ada pada kaki terutama di celah jari
  • Kambing muda sangat mudah dijangkiti, lama kelamaan kambing menjadi kurus dan lemah karena susah makan dan bergerak
  • Perawatan:
    • Suntikan pelali selama 3-4 minggu dan sekali lagi setelah 3-4 bulan selepas suntikan pertama
    • Asingkan kambing yang sudah dijangkiti
    • Beri perawatan pada gelembung yang sudah pecah menggunakan obat seperti iodin

Kembung

  • Kambing mudah mengalami kembung terutama apabila makan terlalu banyak makanan kacang-kacangan
  • Di antara tanda-tanda kembung ialah meleleh air liur, perut buncit dan keras, berdentum bila berkentut, gelisah, selalu mengembek dan sering buang air kecil
  • Perawatan:
    • Pastikan pemberian makanan seimbang, tidak berlebihan bahan bernitrogen seperti kacang-kacangan
    • Pastikan padang ragut tidak melebihi 50% kacang-kacangan
    • Beri makan minyak kacang atau minyak jagung

Radang paru-paru (Pneumonia)

  • Batuk basah adalah tanda awal
  • Kambing kelihatan monyok, lemah, pernafasan cepat, batuk berlendir dan keluar hingus
  • Keadaan menjadi tenat jika kurang pengudaraan, kesejukan, basah atau keadaan sesak
  • Perawatan:
    • Asingkan di tempat yang lebih selesa dan tenteram
    • Kandang bersih, kering dan cukup pengudaraan
    • Hindarkan dari terkena hujan dan keadaan lembab
    • Beri suntikan antibiotik serta vitamin

Cirit-birit (Diarrhoea)

  • Disebabkan oleh beberapa hal, seperti cacing, kuman atau salah makan
  • Tahi cair dan berbau busuk, pangkal ekor kotor dan basah, monyok dan suka mengasingkan diri
  • Perawatan:
    • Beri perawatan seperti obat berak dan obat cacing
    • Jaga kebersihan kandang untuk menghindarkan penjangkitan
    • Periksa makanan, ubah jenisnya jika perlu
    • Jalankan ragutan bergilir

Penyakit-penyakit lain

  • Penyakit lain yang dapat menyebabkan kambing tidak sehat antara lain kurap, kurang darah, kancing gigi, cedera fisik, kudis, kutu dan buruk kuku.
  • Keadaan ini menyebabkan kambing tidak cergas, seterusnya kurang selera makan dan menjadi kurus
  • Perawatan : Jaga kebersihan kandang, pemberian makan yang teratur dan tindakan pencegahan penyakit yang teratur dapat mengurangi penyakit.

8. Serba-serbi kambing

Dalam pengelolaan peternakan kambing, hendaknya diusahakan untuk selalu meningkatkan nilai tambah dari produksi ternak, baik daging, susu, kulit, tanduk, maupun kotorannya. Bila kambing hendak dijual pada saat berat badan tidak bertambah lagi (umur sekitar 1 – 1,5 tahun), dan diusahakan agar permintaan akan kambing cukup tinggi.

Source:

http://myternak.wordpress.com/

http://jutawanternak.blogspot.com/

http://www.doa.sarawak.gov.my/kmbing.htm

http://www.jphpk.gov.my/Malay/Panduan%20kambing.htm

http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=4&doc=4a16


Lampiran

kandang 1

kandang 2

kandang 3

kandang 4

3 Responses to “Farm”

  1. adryanus Says:

    PSPB cibinong kepanjangannya apa y?

  2. Tisiomitere Says:

    mengapa tidak:)

  3. ferdiansyah Says:

    makasih infonya gan.,,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.