Abdus Salam : Fisikawan Muslim Wakil Tiga Dunia

HINGGA kini kesan atas negara berpenduduk mayoritas muslim identik dengan keterbelakangan dan kemiskinan. Bahkan ditambah dengan stereotip produsen teroris dan aksi kekerasan. Diperlukan upaya yang amat keras untuk mengubah kondisi dan pandangan ini. Abdul Salam adalah salah satu yang telah berjuang untuk itu.

Abdus Salam adalah fisikawan muslim yang paling menonjol di abad ke-20. Dan satu dari beberapa muslim yang mendapat hadiah nobel seperti Presiden Mesir Anwar Sadat (Nobel Perdamaian 1978), Naguib Mahfoud (Nobel Sastra 1988), Presiden Palestina Yasser Arafat (bersama dua rekannya dari Israel, Nobel Perdamaian 1995).

Bersama dengan Sheldon Lee Glashow dan Steven Weinberg, Salam mendapatkan nobel fisika tahun 1979 untuk kontribusinya dalam menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah yang dinamakan teori elektrolemah (electroweak theory). Teori ini menjadi pijakan pengembangan teori penyatuan mahaagung (grand unification theory) dengan menyatukannya dengan gaya inti (gaya kuat). Dalam perkembangannya teori ini menjadi inti penting dalam pengembangan model standar (standard model) fisika partikel.

DI alam semesta ini terdapat lima gaya dasar yang berperan yaitu gaya listrik dan gaya magnet bergabung dalam elektromagnetik yang bertanggung jawab mengikatkan elektron-elektron pada inti atom dalam sebuah atom zat, gaya gravitasi, gaya kuat yang mengikat proton dan neutron dalam inti, dan gaya lemah untuk peluruhan radioaktif. Ratusan tahun kelima gaya itu dipahami secara terpisah sesuai kerangka dalil dan postulatnya.

Di tahun 1967, tiga sekawan di atas mengumumkan teori “Unifying the Forces” bahwa arus lemah dalam inti atom diageni oleh tiga partikel yang masing-masing memancarkan arus atau gaya kuat. Keberadaan tiga partikel itu telah dibuktikan tahun 1983 oleh tim peneliti di CERN (Cetre Europeen de Recherche Nucleaire) di Jenewa, Swiss yang dipimpin Carlo Rubia (Italia) dan Simon van der Meer (Belanda) melalui Superprotosynchrotron dengan penemuan partikel W+, W- dan Z. Keduanya lantas mendapat nobel fisika tahun 1984.

Lebih jauh, teori mengimbas pada pengembangan teori-teori kosmologi mutakhir seperti Grand Theory (GT) dan Theory of Everything (TOE). Ambisinya adalah menjelaskan rahasia penciptaan alam semesta dalam satu teori tunggal yang utuh.

Agama dan sains

Upaya penyatuan lain dilakukan Salam yaitu mengompromikan antara sains dan agama. Sains dan agama terpisah secara tegas setelah revolusi renaissance di Eropa pada abad pertengahan. Dalam perkembangan sains modern, sains menjauhkan diri bahkan bertentangan dari agama. Kedua bidang ini berada dalam dua dunia yang berbeda.

Seperti dituturkan dalam tulisannya berjudul “Faith and Science”, Salam berpendapat bahwa pemahaman sains tidak bertentangan dengan pemikiran metafisika dalam agama. Lebih tegas lagi dikatakan bahwa konsep kosmologi modern untuk memahami penciptaan alam semesta bisa dipahami melalui konsep penciptaan yang tertulis dalam Alquran. Tulisan-tulisan ilmiah populernya pun banyak mengutip ayat-ayat Alquran.

Bahkan dalam pidato penerimaan hadiah nobel, Abdus Salam mengawalinya dengan ucapan basmalah dan mengemukakan bahwa penelitian yang dilakukan didasari oleh keyakinan terhadap kalimah tauhid. “Saya berharap Unifying the Forces dapat memberi landasan ilmiah terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Untuk negara berkembang

Sumbangan Salam yang tidak kalah penting adalah upayanya dalam memajukan sains terutama di negara-negara berkembang. Meskipun sedikitnya kesempatan dan kekurangan sumber daya, tidak menutup pintu bagi negara berkembang untuk berkontribusi dalam bidang sains, bahkan pada taraf internasional. Dalam berbagai forum internasional, seperti PBB, dengan jelas Salam memaparkan visinya dalam memajukan bidang sains di negara berkembang dan bagaimana membuatnya sehingga bisa sejajar dengan negara maju.

Wujud nyata adalah didirikannya ICTP (International Center for Theoritical Physics) di Trieste, Italia, atas bantuan PBB khususnya Lembaga Energi Atom Internasional, pada tahun 1964. Secara reguler lembaga ini dikunjungi para ilmuwan dari 50-an negara berkembang dan merupakan sumbangan sangat besar bagi komunitas fisikawan. Hingga kini ICTP telah dikunjungi lebih 60.000 ilmuwan dari 150 negara. Lembaga lain yang didirikan Salam The Third World Academy of Sciences dan The Third World Network of Scientific Organization sekaligus sebagai presidennya yang pertama.

Abdus Salam lahir di Jhang, Lahore, Pakistan pada 29 Januari 1926 di keluarga dengan tradisi pendidikan kuat. Ayahnya pegawai Departemen Pendidikan di daerah pertanian miskin. Dalam usia remaja, bakatnya dalam bidang sains sudah terlihat. Rekor nilai tertinggi untuk ujian matrikulasi di Universitas Punjab dicapainya. Berbagai beasiswa diraih. Lulus dari Universitas Punjab, Salam meneruskan belajar ke St. John’s College, Inggris, lulus tahun 1949 untuk dua bidang sekaligus yaitu matematika dengan nilai rata-rata 10 dan fisika.

Gelar Ph.D. diraihnya pada usia 26 tahun untuk fisika teori dari University of Cambrigde dengan tesis tentang elektrodinamika kuantum . Tesis ini dipublikasikan tahun 1951 dan membuatnya terkenal serta bereputasi internasional.

Tawaran mengajar dan riset dari almamater ditolak dan Salam memilih pulang ke Pakistan Profesor di Government College, Lahore sekaligus Kepala Departemen Matematika Universitas Punjab. Sayangnya, kemampuannya kurang dihargai di negerinya. Akhirnya Salam memutuskan kembali ke Inggris dan menjadi Professor di Imperial College. Di sinilah prestasi internasional Salam mencapai puncaknya.

Berbagai jabatan di lembaga internasional disandangnya seperti sekjen di bidang sains untuk konferensi penggunaan damai energi atom, Geneva (1955 dan 1958) dan ketua komisi penasihat bidang sains dan teknologi (1971-1972), Vice President dari International Union of Pure and Applied Phyusics (IUPAP) (1972-78), dan penasihat presiden Pakistan untuk bidang sains (1961-1974).

Lebih dari 39 gelar doktor honoris causa dari berbagai universitas di dunia serta anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional 35 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Demikian halnya penghargaan internasional dalam bidang perdamaian dan kerjasama iptek internasional.

Prof. Abdus Salam meninggal hari Kamis 21 Nov 1996 dalam usia 70 tahun setelah cukup lama menderita Parkinson di Oxford, Inggris. Ia meninggalkan seorang istri serta enam anak (dua laki-laki dan empat perempuan). Salam dimakamkan di Rabwa, Punjab.

Upayanya yang tak kenal lelah dalam riset fisika dan pengembangan tradisi ilmiah di negara berkembang patut diteladani. Abdus Salam adalah fisikawan muslim yang berhasil menjadi duta dari tiga dunia: Islam, fisika teori dan kerja sama internasional terutama bagi negara berkembang.***

Taufiq (Klub Astronomi Bondowoso (kLab))

Sumber : Pikiran Rakyat (4 Agustus 2005)

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Tedd
    May 12, 2008 @ 11:59:39

    allahuakbar…………….

    Reply

  2. Desy
    Oct 02, 2010 @ 06:03:56

    asalamu’alaikum,,
    ‘afwan, ad yg bs bntu sya untuk menemukan ilmuan atw pmikir Islam yang punya kontribusi trhdap prkmbangan teori atom,,??

    Reply

  3. ayu
    Feb 26, 2011 @ 17:08:48

    Subhanallah, keren bgt bang salam ini, inspiratif sekali
    =))

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: