Ngajar renang

Assalamu’alaikum ya Akhi ya Ukhti…

Assalamu’alaikum ya Akhi ya Ukhti 2X

Salam-salam hai saudaraku, 

smoga Allah merahmatimu

Salam-salam wahai semua,

smoga hidup jadi bahagia

(Penggalan lagu Opick, Assalamu’alaikum..)

Hari mingu pagi yang cerah, setelah sholat subuh, ngaji, mataku masih tertuju pada laptop. Maklumlah, sudah harus mengejar Tugas Akhir untuk segera menjadi Sarjana ITB. Insya Allah. Topik bahasan masih sama, yakni tentang reaktor nuklir. Pemodelan salah satu jenis reaktor nuklir dengan bahan bakar limbah nuklir. Waktu kali ini sudah menunjukkan pukul 07.15. Aku ada janji dengan salah satu rekanku, Bu Yanti, mahasiswi S3 di Fisika. Dia satu lab denganku di Nuclear Reactor Physics Laboratory. Janji yang ku maksud adalah mengajarkan anaknya berenang. Iya berenang. Salah satu aktivitas yang rutin kulakukan beberapa saat terakhir ini untuk tetap menjaga kebugaranku.  

Dengan menggunakan kendaraan umum, tanpa mandi dahulu –ya iyalah, namanya juga mau berenang, mandi di kolam aja- langsung berangkat dengan membawa perlengkapan seadanya. Angkot Caheum-Ledeng dengan lincahnya membelah jalan setiabudi. Dan pukul 8 kurang 10 pun aku sudah berada di depan kolam renang Sabuga. Ternyata bu Yanti dan anaknya belum kunjung datang.   Wah, sudah lama juga aku tidak datang ke sabuga di hari Ahad. Biasanya berenang hari Sabtu atau hari biasa. Rame sekali. Lapangan lari penuh dengan orang yang berlari atau sekedar berjalan ria. Di tengah lapangan tampak anak-anak klub berlatih sepak bola. Di pinggir lapangan ada panggung yang diisi hiburan yang di sponsori oleh salah satu minuman pembangkit tenaga. Ramelah pokoknya.  Jam 10 lewat sedikit aku bertemu dengan bu Yanti, suaminya, dan anaknya. Ijlal, atau Jilal ya… (lupa euy, besok tanya lagi deh). Langsung aja ke kolam renang. Dasar anak-anak, begitu sampai kolam renang langsung menuju kolam dalam. Hampir aja dia nyebur. Bisa berabe tuh.  Di Sabuga ada kolam untuk anak-anak, jadi lah latihan pertama kita, yaitu berani dengan air.. Ternyata si Ijal bisa ga takut sama sekali dengan air. Pelajaran kedua mengambang dan menyelam.. Emang ga mudah ya ngajarin anak-anak. Butuh kesabaran yang tinggi. Anak-anak itu banyak maunya, tapi giliran dah diturutin. Itu anak malah ga mau.. (mungkin kita juga gitu ya waktu anak-anak he he he…)    

Selama lebih dari 30 menit si Ijal belajar berenang. Yah lumayan lah, sedikit-sedikit sudah mulai bisa ngambang dan nyelam. Si Ijal ga bisa terlalu lama berenang, karena memang dingin banget. Dia udah pelukan aja ama ayahnya, kedinginan..   Pelajaran berenang pertama kali akhirnya selesai juga. Selesai ngajarin si Ijal ngambang sama nyelem, aku pun melanjutkan berenang dengan mengitari beberapa kali kolam renang besar dengan berbagai macam gaya, mulai dari gaya katak, bebas, punggung, sampai kupu-kupu. Untuk yang terakhir ini masih dalam tahap belajar. Si Ijal masih memperhatikanku untuk beberapa saat, sampai tampaknya dia sudah terlalu capai dan akhirnya pulang. Kamipun sepakat untuk bertemu kembali pekan depan.  Berenang bagiku sudah merupakan hobi yang tidak bisa dilepaskan. Bukannya tidak suka dengan olahraga lain, seperti futsal, lari, atau yang lainnya. Tapi berenang inilah yang paling aku sukai sejak kecil. Untung saja aku masih cinta berenang, kalau enggak aku sudah tidak akan olahraga lagi deh. 

Berenang selain untuk olahraga, menggerakkan seluruh otot dan persendian, juga untuk melepaskan penat dalam aktivitas sehari-hari. Setelah berenang biasanya akan merasakan segar yang luar biasa pada tubuh. Juga pada otak. Lumayan bisa menghilangkan stress ketika mengerjakan TA he he he..   Emang benar kata Rasul, Ajarkan anakmu Memanah, Berkuda, dan Berenang. Dengan menguasai salah satu saja dari yang di atas, akan banyak memberikan manfaat bagi diri maupun orang lain..

 
Salam

Kamil

 

Ps: yg mau ikutan belajar renang tinggal japri aja ya

kolam-renang.jpg

Kecelakaan (lagi)

Senin (18/2/08) pagi, dengan diantar dengan kedua orang tua aku diantar menuju salah satu point Baraya travel di daerah Melawai. Baraya travel memang terkenal dengan travel Bandung-Jakarta yang paling murah. Cuma 35 ribu. Lumayanlah buat kantong mahasiswa. Bahkan beberapa bus pun harganya lebih mahal dari travel ini. Harga yang murah bukan berarti pelayanan tidak memuaskan. Yah memang, kenyamanan dalam kendaraan akan berbeda dengan travel lain yang harganya 50-60 ribu.

Mobil yang aku tumpangi berangkat pukul 06.30. On time. Sebelum jalan aku sempat berdoa dalam untuk keselamatan perjalanan dan doa tidur. Maklumlah, dalam perjalanan jauh seperti ini, apalagi tidak jadi pengemudi biasanya tidur sepanjang perjalanan. Perjalan mobil seperti biasa. Masuk tol dalam kota kemudian tol cikampek. Di KM 57 sempat isi solar, dan beberapa penumpang pergi ke toilet untuk menyelesaikan urusannya masing-masing.

Perjalanan pun dilanjutkan. Tidak jauh dari tempat peristirahatan, mobil kami berbelok ke arah kiri, ke arah Bandung menuju tol Purbalenyi (Cipularang). Saat itu memang terjadi hujan, tidak gerimis, namun tidak juga terlalu lebat. Penumpang di sebelah kanan dan kiri tampak tertidur. Mungkin juga penumpang yang lain tidak begitu memperhatikan jalan. Aku belum sempat tertidur saat itu. Masih asik memikirkan tugas kuantum dan tugas akhir yang tak kunjung selesai.

Sekitar KM 77 tiba-tiba mobil di depan kami kehilangan kendali. Mobil tersebut slip, kemudian berputar 900 dan menghantam pagar pembatas. Mobil tersebut tepat melintang di depan mobil. Saat itu juga aku berpikir pasti akan terjadi kecelakaan. Kuambil posisi bersiap-siap, pasang kuda-kuda, memejamkan mata, berdoa, dan bertahlil.

Aku sempat berfikir, apabila aku meninggal sekarang, maka aku harus ikhlas. Yang aku ingat, aku hanya bisa berucap Tahlil dan pasrah apapun yang terjadi.

Duarrrr….Ssssrrttt…..

Benarlah apa yang kuperkirakan. Alhamdulillah aku masih bisa melihat. Suasana agak kacau. Orang di samping kananku baru saja sadar dari tidurnya. Orang di samping kiri sudah turun dari mobil. Ternyata aku masih dapat berdiri. Aku ikut keluar kendaraan. Kulihat kendaraan kami sudah menabrak sedan tersebut. Dan kudengar orang minta tolong dari dalam sedan itu.
Beberapa mobil berhenti untuk ikut menolong. Saat itu juga aku dengan beberapa orang terebut berusaha untuk mengeluarkan penumpang dan pengemudi sedan. Menarik, mendorong, dan merusak bagian-bagian mobil kami lakukan. Akhirnya penumpang sedan masih dapat di keluarkan dan kemudian di bawa menggunakan mobil pribadi yang berhasil kami stop.

Masih satu pengemudi yang terhimpit kendaraan. Dia tidak bisa kami keluarkan karena posisinya yang sulit. Ternyata pengemudi itu berpangkat kolonel. Tampaknya posisinya sangat sulit dikeluarkan, dan dia perlahan-lahan menghembuskan napas yang terakhir.

Jasa marga, mulai datang. Tak lama kemudian polisi dan ambulan pun datang. Saat itu sudah mulai tenang. Aku kembali ke mobil untuk mencari kaca mata, dan handphone yang terpental entah kemana. Alhamdulillah kedua barang tersebut diketemukan oleh penumpang di kananku yang baru saja bangun. Tampak dia shock sekali dengan kejadian ini.

Kondisi sedannya ini cukup mengerikan. Kaca depan, kaca samping pecah. Airbag sepertinya juga pecah. Bagian kanan sedan yang rusak parah, karena langsung bertabrakan dengan mobil kami. Sedang mobil kami, kaca depan, dan kaca kanan kirinya juga pecah. Setelah aku perhatikan, ternyata itu toyota Camry, sktr thn 2000. Beberapa kali aku mengendarai Toyota Camry jenis ini dengan kecepatan tinggi. Tambah shock waktu itu.

Alhamdulillah semua penumpang dalam mobil kami selamat semua. Yang mungkin agak parah supir dan penumpang paling depan. Beberapa saat kemudian penumpang lain dalam mobil kami sudah dioper ke mobil baraya lain yang kebetulan melintas. Tinggallah kami berlima, laki-laki semua yang tadi sempat membantu mengeluarkan korban bersama supir.

Saat itu barulah terasa, tangan, kaki, punggung dan beberapa bagian lain yang pegal-pegal dan tersa sakit. Setelah ditanya macam-macam oleh polisi, dan pertolongan pertama seadaanya, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan mobil baraya yang lewat. Kami memutuskan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di Bandung saja, supaya aksesnya lebih mudah. Di Bandung, hanya disuntik morfin, kemudian sempat di ronsen dan di beri obat. Alhamdulillah tidak ada luka yang berarti. Ya, butuh istirahat beberapa hari saja. Pihak Baraya travel yang menanggung semua biaya rumah sakit. Bahkan penumpang di sampingku minta di ganti kaca mata yang baru.

Kejadian ini sangatlah berarti bagiku. Setelah kejadian itu, aku banyak berintrospeksi diri. Kematian itu dekat, kita tidak tahu kapan kita akan meninggal. Bisa jadi 1 jam lagi, besok, minggu depan, bulan depan, tahun yang akan datang, atau seperti Pak Harto, yang proses meninggalnya dipersulit. Yang mau kulakukan sekarang ya Taubat, beribadah dan berbuat kebaikan lebih dari sebelumnya.

Semoga dapat menjadi pelajaran..


(aku baru tahu belakangan yang meninggal ternyata itu seorang kolonel. BS Pasaribu. Beberapa waktu lalu, pihak baraya sempat bicara bahwa aku diminta untuk menjadi saksi. Namun mereka belum menghubungi lagi. Berita lain, kalau supirnya sudah di non aktifkan.. Uh.. kasihan dia, padahal menurutku dia tidak bersalah)..

Kamil